Gelar Sholat Idulfitri 2 Kali, UPN “Veteran” Yogyakarta Tekankan Kejayaan Umat dengan Iman dan Ilmu
Yogyakarta – Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran“ Yogyakarta menggelar Sholat Idulfitri 1447 Hijriah sebanyak 2 kali, yakni pada Jumat (20/3/2026) dan Sabtu (21/3/2026) mulai pukul 06.30 WIB. Bertempat di Lapangan Gedung Rektorat, pelaksanaan Sholat Id sebanyak dua kali tersebut guna menjungjung tinggi nilai toleransi dalam perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H.
Pada Jumat (20/3/2026), Sholat Id dipimpin oleh Muhammad Ashadur Nawawi sebagai imam. Sementara, Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D bertindak selaku khotib.
Pada Sabtu (21/3/2026), Ibrahim Abu Hanifah akan memimpin pelaksanaan Sholat Id sebagai imam. Sedangkan, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Periode 2019-2022, Prof. Ainun Na'im, Ph.D., M.B.A. akan bertindak selaku khotib.
Adapun pelaksanaan Sholat Id pada Jumat (20/3/2026) berjalan dengan tertib dan khidmat. Dalam khutbahnya, Prof. Setyabudi mengatakan bahwa Hari Raya Idulfitri merupakan Hari Kemenangan bagi seluruh umat Islam setelah menjalani Madrasah Ramadhaniyah, yang diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, menjalankan ibadah fardlu, dan ibadah sunnah.
“Kemenangan dalam bentuk ketakwaan ini perlu kita wujudkan dalam bentuk bentuk amal ibadah yang kongkrit berupa menjaga hubungan baik kita dengan Allah SWT (hablum minallah) dan hubungan horizontal kita dengan sesama makhluk (hablum minannas),” ujarnya.
Di hadapan para jamaah, Prof. Setyabudi menekankan tentang pentingnya peran iman dan ilmu bagi kejayaan umat. Menurutnya, Umat Islam yang dahulu adalah pemimpin peradaban, kini seringkali berada di barisan belakang dalam kemajuan, lantaran menjauh dari penguasaan ilmu pengetahuan.
Kaitannya dengan Ramadhan, Prof. Setyabudi menjelaskan bahwa Ramadhan sejatinya adalah Syahru Tarbiyyah atau bulan Pendidikan karena melatih kita untuk disiplin, sabar, dan konsisten (istiqamah). Ia menuturkan, makna kembali kepada fitrah bukan berarti berhenti berjuang, melainkan kembali kepada kesucian niat untuk terus belajar secara berkelanjutan (sustain).
“Semangat Madrasah Ramadhaniyah ini harus kita transformasi ke dalam pengembangan IPTEK. Belajar sains dan teknologi bukan sekadar mengejar karir duniawi, melainkan sebuah bentuk ibadah yang panjang,” tegasnya.
Karenanya, Prof. Setyabudi berharap agar muslim menjadikan momentum Idulfitri 1447 Hijriah sebagai garis start untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dalam menguasai teknologi demi kemaslahatan umat. Kesucian diri yang kita raih harus diisi dengan karya nyata, riset yang bermanfaat, dan inovasi yang didasari oleh ketakwaan.
“Inilah esensi manusia yang bertakwa yaitu ia yang terus tumbuh,” ujar Prof. Setyabudi.
Dalam khutbahnya, Prof. Setyabudi juga menyinggung tentang dua 'badai' besar saling berkaitan yang ‘mengepung’ dunia saat ini. Pertama, adalah badai disinformasi dan misinformasi. Kedua, adalah krisis lingkungan yang kian ekstrem.
Di tengah ketidakpastian dunia, lanjutnya, yang penuh dengan ketimpangan sosial dan konflik, tidak ada jalan keselamatan bagi muslim, kecuali kembali memperkuat benteng iman. Prof. Setyabudi menekankan bahwa umat muslim harus menjadi umat yang cerdas dalam menyaring informasi agar tidak terpecah belah, dan menjadi hamba yang peduli pada kelestarian alam sebagai wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
“Hanya dengan persatuan yang dilandasi iman, kita mampu bertahan menghadapi gelombang risiko global yang kian kompleks ini,“ ujar Prof. Setyabudi.
Penulis: Ulfa
Editor: Dewi
Indonesia
English