Pakar UPN Veteran Yogyakarta Ungkap Fenomena Geologi di Balik Kebakaran Perabot di Sleman

  • Minggu 31 Mei 2026
  • Oleh : Dewi
  • 184
  • 2 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

SLEMAN, Minggu 31 Mei 2026 – Misteri penyebab kebakaran yang menghanguskan perabot rumah tangga di wilayah Kabupaten Sleman akhirnya berhasil terpecahkan secara ilmiah. Tim ahli dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta turun langsung melakukan investigasi lapangan untuk memetakan pemicu utama fenomena yang sempat menghebohkan masyarakat tersebut.

Pakar Geologi sekaligus Dekan Fakultas Teknologi Mineral (FTM) UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. R.M. Basuki Rahmad, M.T., mengungkapkan bahwa kebakaran tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan hal mistis, melainkan murni fenomena geologi. Berdasarkan hasil analisis sampel di lokasi, kebakaran dipicu oleh adanya migrasi gas metana (CH_4) alami  yang keluar dari bawah permukaan tanah.

Prof. Basuki Rahmad, yang juga merupakan pakar terkemuka di bidang gas metana batu bara, geologi batu bara, dan petrologi organik, menjelaskan bahwa karakteristik wilayah tersebut secara historis merupakan area rekahan batuan bekas rawa.

"Dari hasil investigasi tim kami di lapangan, ditemukan adanya akumulasi gas metana alami yang terperangkap di dalam batuan bekas rawa. Gas ini kemudian bermigrasi ke atas melalui celah atau rekahan tanah hingga mencapai permukaan, lalu terwujud dalam bentuk paparan gas yang sangat mudah tersulut api," jelas Prof. Basuki Rahmad saat memberikan keterangan, Minggu (31/5/2026).

Beliau menambahkan bahwa material organik yang tertimbun selama ribuan tahun di bekas lingkungan rawa tersebut telah mengalami proses pembusukan alami tanpa oksigen (anaerob). Proses inilah yang pada akhirnya membentuk kantung-kantung gas metana pekat di bawah permukiman warga.

Mengingat sifat gas metana yang tidak berwarna namun sangat mudah terbakar (flammable), Prof. Basuki mengimbau masyarakat di sekitar lokasi terdampak untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Pihak FTM UPN “Veteran Yogyakarta sendiri kini tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk melakukan mitigasi lebih lanjut, termasuk mengukur sebaran dan volume gas yang tersisa di kawasan tersebut.

"Kami menyarankan agar dilakukan pengujian berkala pada sumur-sumur warga dan area lantai rumah yang retak. Jika muncul bau menyengat atau desisan udara dari dalam tanah, segera pastikan sirkulasi udara di dalam ruangan terbuka lebar agar gas tidak mengumpul dan memicu ledakan atau kebakaran baru," lanjutnya.

Terkait langkah mitigasi ke depan, Prof. Basuki menjelaskan bahwa pemantauan intensif akan terus dilakukan. Mengingat api sudah padam dalam satu minggu terakhir, tim ahli menyarankan agar area tersebut tetap dipantau secara berkala setiap minggu selama satu bulan ke depan.

"Insya Allah, jika dalam satu bulan ini tidak muncul percikan api lagi, maka tingkat bahayanya bisa kita turunkan dari status sedang ke ringan. Semoga setelah itu situasinya bisa berubah menjadi benar-benar aman," ujar Prof. Basuki.