Ubah Limbah Kertas Jadi Gantungan Kunci, Mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta Raih Juara II Kompetisi Nasional
Yogyakarta, 12 Oktober 2026 — Berawal dari persoalan limbah kertas dan minimnya pengetahuan generasi muda tentang budaya lokal, tiga mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) menghadirkan inovasi bisnis kreatif bernama KERTALA (Kertas Bercerita Lintas Budaya). Gagasan mengolah limbah kertas menjadi gantungan kunci edukatif yang dilengkapi teknologi QR code tersebut mengantarkan Tim Bismillah Final meraih Juara II dalam National Business Plan Competition KOMIKA 2026.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (KAMAGRISTA UNS) ini diikuti 40 tim dari berbagai daerah di Indonesia. Pada babak final, Tim Bismillah Final bersaing dengan tim dari UPN “Veteran” Jawa Timur, Universitas Sebelas Maret, Universitas Lambung Mangkurat, dan IPB University.
Tim Bismillah Final terdiri atas Aqilla Zulfani Patriasi dan Syifa Nursholikah dari Program Studi Manajemen serta Widya Anindya Zahira dari Program Studi Akuntansi. Ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPNVY angkatan 2024.
Melalui KERTALA, tim ini menawarkan pendekatan kreatif dalam memanfaatkan limbah. Kertas bekas rumah tangga diolah menjadi gantungan kunci yang tidak sekadar berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan sejarah, cerita, dan filosofi budaya lokal.
Keunikan produk tersebut terletak pada integrasi QR code interaktif. Pengguna dapat memindai kode untuk mengakses informasi mengenai budaya lokal secara digital. Dengan konsep ini, KERTALA memadukan pemanfaatan kembali limbah (reuse) dengan edukasi budaya berbasis teknologi.
Perwakilan Tim Bismillah Final, Syifa Nursholikah, menjelaskan bahwa KERTALA dikembangkan dengan menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dan keinginan untuk mengenalkan budaya lokal melalui media yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Melalui KERTALA, kami ingin menunjukkan bahwa limbah kertas masih memiliki nilai guna dan dapat diolah menjadi produk yang menarik. Kami juga ingin menghadirkan cara yang lebih kreatif bagi generasi muda untuk mengenal cerita dan filosofi budaya lokal melalui teknologi digital,” ujar Syifa.
Menurut Syifa, gagasan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai konsep dalam kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan edukasi budaya.
Gagasan KERTALA berangkat dari dua persoalan, yakni penumpukan limbah kertas dan terbatasnya pengetahuan generasi muda mengenai nilai-nilai budaya lokal. Tim melihat kedua persoalan tersebut sebagai peluang untuk menghadirkan inovasi bisnis yang memiliki manfaat lebih luas.
Limbah kertas tidak lagi dipandang semata-mata sebagai material yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Sementara itu, teknologi digital dimanfaatkan untuk menyampaikan pengetahuan budaya melalui media yang lebih interaktif dan mudah diakses.
Konsep tersebut menempatkan KERTALA pada persimpangan kreativitas, keberlanjutan lingkungan, dan pelestarian budaya. Produk ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan limbah kertas sekaligus meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia.
Raihan Juara II dalam kompetisi tingkat nasional ini menjadi pencapaian bagi Tim Bismillah Final dalam memperkenalkan gagasan bisnis yang tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan manfaat sosial dan lingkungan.
Ke depan, KERTALA diharapkan dapat terus dikembangkan agar memiliki daya saing sebagai produk kreatif sekaligus memperluas jangkauan edukasi budaya lokal. Inovasi ini menunjukkan bahwa persoalan di sekitar masyarakat dapat menjadi titik awal lahirnya ide bisnis yang relevan, kreatif, dan berkelanjutan.
Melalui capaian tersebut, mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta menunjukkan peran generasi muda dalam menghadirkan solusi inovatif yang menghubungkan kewirausahaan, pemanfaatan limbah, dan pelestarian warisan budaya Indonesia.
Penulis: dws
Indonesia
English