Lebih Dekat Dengan Ketua PPKS UPNYK, Dr. Ida Susi Dewanti

  • Selasa 13 Februari 2024 , 01:37
  • Oleh : Admin
  • 1324
  • 4 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta
Potret Dr. Ida saat ditemui di ruangannya. Sumber: Biro Humas dan Kerjasama UPNYK

“Setiap Individu Memiliki Tanggung Jawab Moral”

Di balik tiap kesuksesan dan perubahan positif dalam suatu komunitas, ada tokoh-tokoh yang tak kenal lelah, mereka yang bersedia mengorbankan waktu dan tenaga demi mewujudkan cita-cita dan idealisme mereka. Salah satu sosok yang ingin memberikan kontribusi dalam menciptakan kampus yang nyaman untuk semua pihak di UPNYK adalah Dr. Ida Susi Dewanti, S.Sos, M.Si, Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS).

Terlahir dari keluarga sederhana di Batang, Jawa Tengah, Ida, panggilan akrabnya, tumbuh dalam lingkungan pendidik karena ayah dan ibunya adalah guru. Lingkungan ini turut membentuk kepribadiannya menjadi seseorang yang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Memilih jurusan Administrasi Bisnis sebagai jalur pendidikan pada level sarjana sampai doktoral mendorong ketertarikannya terhadap isu-isu perempuan dan gender khususnya dalam pemberdayaan ekonomi kaum perempuan.

"Saya selalu percaya bahwa setiap perempuan memiliki potensi yang luar biasa untuk mencapai impian dan aspirasinya," ujar Ida saat ditanya tentang motivasinya tertarik dalam pemberdayaan ekonomi perempuan.

Jejak pendidikan tinggi yang ditempuhnya membuat dirinya perlu untuk berbuat lebih dari sekadar tenaga pengajar biasa. Hal itu turut mendorong untuk terlibat dalam Satgas PPKS di UPNYK. Ini adalah langkah kecil tetapi mungkin berarti bagi orang lain yang membutuhkan dukungan dan kepedulian saat menghadapi permasalahan kekerasan seksual di kampus.

"Saya percaya bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi yang lemah dan membela yang tidak berdaya," kata Ida, mencerminkan semangatnya dalam mengambil peran di Satgas PPKS.

Proses rekrutmen Satgas PPKS adalah tantangan besar bagi Ida dan kawan-kawannya. Mereka harus melewati serangkaian uji seleksi yang menguji kesiapan mereka dalam menangani masalah sensitif seperti kekerasan seksual. Tidak hanya itu, mereka juga harus siap secara emosional untuk menghadapi kisah-kisah tragis yang mungkin akan mereka dengar dalam perjalanan perjuangan mereka.

"Saat pertama kali saya mendengar kisah korban kekerasan seksual, saya merasa sedih terguncang dan terpanggil untuk bertindak. Itu adalah momen di mana saya tahu bahwa saya harus menjadi bagian dari solusi," ucap Ida, mengingat kembali pengalamannya saat bergabung dengan Satgas PPKS.

Namun, bagi Ida, setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Dia percaya bahwa dengan keberanian dan ketulusan, mereka dapat mengubah paradigma dan sikap terhadap kekerasan seksual di lingkungan kampus. Itulah mengapa dia dan rekan-rekannya terus berjuang, meskipun jalan yang mereka tempuh penuh dengan rintangan.

"Saya tidak akan menyerah pada perjuangan ini. Kehormatan dan tanggung jawab untuk menjalankan dan menyelesaikan amanah di satgas PPKS harus dilaksanakan dengan penuh keseriusan karena kami sudah memilih untuk menjadi bagian dari lembaga ini. Selain itu dukungan dari pimpinan universitas juga menjadi penyemangat bagi semua anggota tim dari segala kesulitan yang kami hadapi," tambahnya.

Peran Ida di Satgas PPKS tidak terbatas pada penanganan kasus-kasus kekerasan seksual. Satgas PPKS juga berusaha untuk membangun kesadaran warga kampus terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan seksual ini melalui kegiatan sosialisasi dan pemasangan poster ataupun kerjasama mengisi acara mahasiswa. Ida selalu meyakini bahwa intelektual dan kesadaran harus berjalan searah dan inilah kunci untuk mengakhiri siklus kekerasan dan ketidakadilan.

"Kami tidak hanya harus mengobati luka-luka yang ada, tetapi juga mencegah terjadinya luka-luka baru. Edukasi adalah senjata terkuat kita dalam melawan ketidakadilan," tegasnya.

Ketika ditanya tentang tantangan paling besar yang menjadi lawannya dalam perjuangannya sebagai bagian dari Satgas PPKS, Ida dengan terang menjawab bahwa stigma dan ketidakpercayaan masih menjadi hambatan utama.

"Warga kampus masih belum sepenuhnya memahami pentingnya keberadaan Satgas PPKS. Namun, kami akan terus berusaha membangun kesadaran sampai setiap orang memahami bahwa kekerasan seksual adalah masalah yang harus kita lawan bersama-sama," ucap Ida dengan penuh keyakinan.

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Ida saat memimpin Satgas PPKS adalah ketika mereka berhasil mendapatkan dukungan penuh dari pihak universitas untuk meluncurkan program pelatihan dan kesadaran tentang kekerasan seksual.

"Ketika universitas memberikan dukungan penuh kepada kami, itu adalah bukti bahwa perjuangan kami tidak sia-sia. Itu adalah langkah besar menuju masyarakat kampus yang lebih aman dan inklusif," tutur Ida, dengan senyum bangga di wajahnya.

Meskipun demikian, perjalanan Ida tidak selalu mulus. Ada saat-saat di mana kelelahan dan frustrasi hampir membuatnya menyerah. Namun, setiap kali dia merasa lemah, dia selalu teringat akan misi dan visi Satgas PPKS.

"Saya tidak akan pernah menyerah. Saya bertekad untuk terus berjuang sampai kita mencapai dunia yang lebih adil dan berbelas kasih bagi semua," ujarnya dengan tekad yang menggetarkan hati.

Saat ini, Ida tidak hanya berjuang untuk mengubah pandangan dan sikap terhadap kekerasan seksual di UPNYK, tetapi juga untuk memperluas dampaknya ke luar lingkungan kampus. Dia percaya bahwa masalah kekerasan seksual adalah isu yang melibatkan semua orang, dan oleh karena itu, semua orang juga memiliki tanggung jawab untuk berbuat sesuatu.

"Dengan kerja keras, determinasi, dan semangat solidaritas, kita bisa mencapai perubahan yang kita inginkan. Kita bisa menciptakan dunia yang lebih aman dan lebih adil bagi semua," tegasnya.

Penulis: Dimassiradje