Tanpa Racun, UPN “Veteran” Yogyakarta Andalkan Burung Hantu Kendalikan Hama Tikus

  • Senin 31 Agustus 2026
  • Oleh : Dewi
  • 53
  • 3 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

Yogyakarta, 31 Agustus 2026 — Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) mendorong pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan melalui konservasi burung hantu (Tyto alba) sebagai predator alami. Upaya tersebut dilakukan Tim Pengabdian bagi Masyarakat (PbM) UPNVY bersama Kelompok Tani Kembang Rejo, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu.

Tim PbM UPNVY terdiri atas Mukti Ahmad Nurcahya, S.P., M.Sc., Dr. Antik Suprihanti, S.P., M.Si.,Dr.  Ir. R.R. Rukmowati Brotodjojo, M.Agr., dan Virginia Ayu Sagita, S.Sos., M.Ikom. Dalam kegiatan tersebut, tim menyerahkan fasilitas rumah burung hantu (rubuha) dan tempat bertengger (perching) serta sebelumnya telah memberikan 2 paket Trap Barrier System (TBS) untuk membantu mengendalikan hama tikus.

Penelitian pengendalian tikus menggunakan TBS telah dilakukan Tim UPN Veteran Yogyakarta tahun 2022  dengan ketua Dr. Antik Suprihanti, S.P., M.Si. berhasil mengurangi penyebaran hama tikus di Pleret, Sedayu dan Imogiri Bantul. Menurut Mukti, kegiatan ini merupakan bentuk implementasi atas keluhan petani akan hama tikus di wilayah ini yang dominan ditanami padi. Menurut Dr.  Ir. R.R. Rukmowati Brotodjojo, M.Agr., yang juga dosen Hama Penyakit mengatakan pengendalian hama tikus perlu dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan metode mekanis dan pemanfaatan musuh alami.

“Pengendalian hama tikus tidak harus selalu menggunakan bahan kimia. Tim PbM mendorong pemanfaatan Tyto alba sebagai bagian dari pengendalian hama terpadu. Dengan menyediakan habitat yang sesuai melalui rubuha dan tenggeran, burung hantu dapat menjalankan perannya sebagai predator alami tikus,” ujar Rukmowati.

Menurutnya, kombinasi TBS dan konservasi burung hantu diharapkan dapat membantu petani mengendalikan populasi tikus sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

Program tersebut juga mendapat dukungan dari tim pengendalian hama Dinas Pertanian setempat. Sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok tani menjadi bagian penting dalam menghadirkan solusi pertanian yang berkelanjutan.

Ketua Kelompok Tani Kembang Rejo, Wahyu Sianto, mengapresiasi dukungan UPNVY. Ia mengatakan burung hantu yang menghuni rubuha biasanya keluar saat senja untuk berburu tikus di sekitar persawahan.

Saat ini, Kelompok Tani Kembang Rejo telah memiliki rubuha yang dihuni sekitar empat ekor Tyto alba dewasa. Keberadaan rubuha baru diharapkan dapat memperkuat populasi burung hantu sekaligus mendukung perkembangbiakannya di kawasan pertanian.

“Burung hantu sangat membantu petani karena keluar setiap senja untuk berburu tikus. Kami berharap fasilitas ini dapat dipelihara dengan baik sehingga keberadaan burung hantu terus berkembang,” ungkap Wahyu.

Rubuha yang diberikan UPNVY juga menggunakan desain yang lebih adaptif dengan pembatas pada pintu masuk untuk mengurangi paparan sinar matahari dan terpaan angin secara langsung. Sementara itu, tenggeran dibuat dari kayu berbentuk huruf T dan ditempatkan di sekitar area persawahan untuk mendukung aktivitas berburu Tyto alba.

Melalui program ini, UPNVY mendorong pengendalian hama yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas pertanian, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Kombinasi TBS dan konservasi Tyto alba diharapkan menjadi model pengendalian tikus yang ramah lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Penulis: Dewi