UPN 'Veteran' Yogyakarta Perkuat PKBM Al-Mu’thi melalui Teknologi Pupuk dan Pemasaran Digital

  • Jumat 21 Agustus 2026
  • Oleh : Dewi
  • 28
  • 5 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

Yogyakarta, 21 Agustus 2026 - Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta mendorong penguatan kemandirian ekonomi di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Mu’thi melalui pengembangan pengolahan pupuk organik yang terintegrasi dengan manajemen usaha dan pemasaran digital.

Program diketuai Prof. Dr. Dyah Sugandini, S.E., M.Si., bersama Didi Saidi, M.Si. dan Prof. Dr. Ir. Suci Paramitasari Syahlani, M.M. Pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada pemberian alat, tetapi menempatkan pengelola dan santri sebagai pelaku utama yang belajar langsung dari proses produksi hingga pemasaran.

Program ini didanai dari program hibah pemberdayaan berbasis masyarakat, ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, tahun anggaran 2026.

Judul yang diangkat dalam program ini adalah 'Penguatan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Melalui Pengolahan Pupuk Organik dan Pemasaran Digital di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Al-Mu’thi Sleman'.

PKBM Al-Mu’thi memiliki modal awal yang kuat untuk mengembangkan kegiatan produktif berbasis pertanian organik. Lembaga ini memiliki lahan sekitar 6.000 meter persegi, tiga unit greenhouse, area pertanian dan perkebunan, serta sarana pengolahan pupuk.

Dari sisi sumber daya manusia, terdapat 65 santri, termasuk 18 santri boarding yang dapat terlibat secara lebih intensif dalam pembelajaran dan kegiatan produktif. Potensi tersebut penting karena lingkungan PKBM memungkinkan praktik produksi, uji pemanfaatan pupuk, serta pembelajaran kewirausahaan berlangsung dalam satu ekosistem.

Sebelum pendampingan, proses pembuatan pupuk sebenarnya sudah dilakukan, tetapi belum sepenuhnya terstandardisasi. Komposisi bahan, tahapan pengolahan, waktu fermentasi, pengeringan, penyaringan, hingga pengemasan belum terdokumentasi secara konsisten.

Pemanfaatan mesin juga belum optimal, sementara pencatatan produksi, biaya, dan penjualan belum dilakukan secure sistematis. Produk yang dihasilkan lebih banyak digunakan untuk kebutuhan internal sehingga peluang nilai tambah ekonomi belum berkembang maksimal.

Untuk menjawab persoalan tersebut, program menerapkan pendekatan pemberdayaan partisipatif berbasis komunitas dengan prinsip learning by doing. Santri dan pengelola dilibatkan dalam pemilahan bahan baku, pencacahan, fermentasi, pengeringan, penyaringan, pembuatan granul, kontrol mutu, hingga pengemasan.

Standar Operasional Prosedur (SOP) disusun sebagai pedoman agar setiap tahap dapat dijalankan secara lebih sistematis, aman, konsisten, dan mudah direplikasi setelah program pendampingan berakhir. Pada sisi teknologi, mesin pencacah digunakan untuk memperkecil dan menyeragamkan bahan organik, sedangkan rotary dryer membantu proses pengeringan. Mesin penyaring digunakan untuk memperoleh ukuran partikel yang lebih seragam dan granulator mendukung pembentukan produk granul. Rangkaian teknologi tersebut diarahkan bukan hanya untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga untuk membangun proses produksi yang lebih konsisten.

Program menargetkan kapasitas produksi berkembang menjadi sekitar 100–300 kilogram pupuk organik per bulan, dengan pencatatan kuantitatif dan kontrol mutu yang terus diperkuat. Penguatan produksi kemudian dihubungkan dengan aspek hilirisasi. Identitas produk WIMAYA GREEN dikembangkan melalui kemasan dan label yang lebih layak jual. Produk diarahkan untuk memiliki informasi yang jelas, ukuran kemasan yang sesuai kebutuhan pasar, dan tampilan yang lebih mudah dikenali konsumen.

Langkah ini penting karena nilai ekonomi produk pertanian tidak hanya ditentukan oleh kualitas fisiknya, tetapi juga oleh konsistensi mutu, kemudahan penggunaan, kejelasan informasi, serta kepercayaan konsumen terhadap produk.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah manajemen usaha. Mitra diperkenalkan pada pencatatan produksi dan keuangan sederhana, termasuk biaya, pemasukan, pengeluaran, serta penjualan.

Pendampingan perhitungan biaya dan penetapan harga jual memberikan dasar agar kegiatan produksi dapat dinilai secara ekonomi.

Dengan pencatatan yang rutin, pengelola dapat mengetahui perkembangan usaha, merencanakan produksi, dan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan perkiraan. Pemasaran digital menjadi penghubung antara kesiapan produk dan calon konsumen.

Santri dan pengelola didampingi untuk menyiapkan foto produk, deskripsi, video pendek, dan konten promosi, serta mulai memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan produk. Sasaran pasarnya mencakup petani, kelompok tani, dan masyarakat.

Penggunaan kanal digital diharapkan memperluas jangkauan pasar yang sebelumnya masih terbatas di lingkungan sekitar PKBM sekaligus menjadi ruang belajar literasi digital bagi santri.

Manfaat program juga terlihat pada sisi pendidikan dan lingkungan. Keterlibatan santri dari proses produksi hingga pemasaran menjadikan kegiatan ini sebagai pembelajaran keterampilan hidup dan kewirausahaan berbasis praktik.

Santri tidak hanya belajar mengolah bahan organik, tetapi juga memahami penggunaan teknologi, kontrol mutu, pencatatan usaha, pengemasan, serta komunikasi pemasaran.

Pada saat yang sama, pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku pupuk mendukung prinsip ekonomi sirkular karena bahan yang sebelumnya bernilai rendah dikembalikan ke sistem pertanian sebagai input yang bermanfaat.

Secara lebih luas, program memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDG 1 tentang pengurangan kemiskinan melalui penguatan kemandirian ekonomi dan SDG 8 tentang pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan keterampilan dan kewirausahaan berbasis komunitas.

Kegiatan ini juga selaras dengan Asta Cita pada penguatan lapangan kerja dan kewirausahaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan sains dan teknologi, serta penguatan bidang pangan melalui praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Pengalaman PKBM Al-Mu’thi menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi komunitas tidak selalu harus dimulai dari sumber daya baru. Potensi yang sudah tersedia—lahan, limbah organik, mesin, tenaga santri, dan kegiatan pertanian—dapat menjadi fondasi usaha ketika dikelola dengan standar produksi, keterampilan, manajemen, dan strategi pemasaran yang tepat.

Integrasi antara teknologi tepat guna dan pemasaran digital membuka jalan agar kegiatan pengolahan pupuk berkembang dari aktivitas pembelajaran internal menjadi unit kewirausahaan hijau yang lebih mandiri dan berkelanjutan.